This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2011

Tes dari word

akjdhfkjasdhfkjasdfhasdf

Jumat, 11 September 2009

Kisah juragan Darso

Pagi itu Sagi bocah kecil yang tak lulus Sekolah Dasar menggembalakan sapi-sapinya di tanah lapang ujung desa, udara pagi, rerumputan masih tertempel air embun membuat sapi-sapi itu melahap penuh semangat.

ada Limousin, brahma, metal dan beberapa sapi perah. Seperti menjadi aturan baku diatara mereka, Semua tertib tanpa mengganggu satu sama lain. Protein kabohidrat dan mineral yang terkandung dalam rumput serta air embun tuk selekasnya mengisi full tank perut mereka.

Bulatan matahari malu-malu menampakkan diri, berselimut dibalik awan, semeridik angin menambah dinginnya suasana pagi di lereng merbabu. Hari ini tanggal 15 bulan Ruwah dalam penanggalan jawa bertepatan dengan upacara tradisi sadranan di desa saya. Para ibu sibuk dengan peralatan dapurnya, bapak-bapak dan pemuda sibuk dengan kerja bakti membersihkan lingkungannya. Ya... hari ini akan diadakan bancakan di rumah bapak RT sebagai bentuk puji syukur atas nikmat dan karunia rejeki Tuhan, yang telah memberikan kesejahteraan masyarakat.

Mayoritas penduduk adalah petani dan peternak, ada juga pak buru, saudagar, tuan tanah dan yang pasti juragan Darso bos usaha penyembelihan sapi. Bulan ini, Ruwah, merupakan bulan yang sangat sibuk buat pak Darso bersama stakeholdernya, dikarenakan bulan ini adalah bulan yang tepat dimana kebutuhan akan daging pada bulan Puasa dan Syawal akan meningkat tajam, stok daging sapi haruslah lebih banyak dibanding bulan-bulan lainnya. Ruwah ini dan mungkin Ruwah-ruwah tahun yang akan datang merupakan berkah dan rejeki yang sangat sempurna bagi Pak Darso, bagaimana tidak? bersamaan dengan tahun ajaran baru harga sapi dan binatang ternak lainnya akan mengalami ekskalasi penurunan harga. Dan itu adalah berkah baginya.

******/***********/***********

Hilir mudik truk dan mobil bak terbuka pagi buta meraung-raung di halaman rumah pak Darso yang memang memiliki ukuran yang sangat luas. ”gluduk, gluduk, brugh..........” suara kaki-kaki sapi diturunkan dari mobil. Satu persatu sapi diturunkan, giliran mereka dikandangkan di belakang rumah pak darso yang mewah. Mardi, karyawan senior bertanggungjawab selama agenda ”ruwahan” ini mengeluh tentang goal yang dicanangkan pak Darso.

”Kenapa tiap tahun kita harus menganiaya sapi-sapi itu, dan selalu bertambah banyak” keluh Mardi kepada Ji’un, teman kerja bertugas sebagai penyembelih sapi. ”heffffffffffffffmmmmmm,,,,,” nafas panjang Ji’un menyanyi diantara gumaman sapi-sapi yang sebentar lagi akan menemui akhir hayatnya. ”ini adalah ladang kita, tempat dimana kita bisa menghidupi anak isteri kita, dimana lagi selain disini di...” ucap Ji’un di ikuti anggukan kepala Mardi menandakan kesetejuaannya.

Hari terus berganti tak terasa tanggalan di pojok kandang itu menunjukkan angka 27 bulan Agustu dan itu pertanda bulan puasa kurang 2 hari lagi.
”Di, ’Un.... awal puasa kita mulai penyembelihan, persiapkan semua keperluannya” sergah Pak Darso membuyarkan lamunan mereka ”inventaris semua kebutuhan dan beli ke toko Pak Dahlan bilamana ada perlengkapan yang belum ada.” Setalah titah itu terucap mereka mempersiapkan semua kebutuhan, ada selang, ada torong besar, puluhan ember dan pastinya 10 bak besar di belakang kandang itu harus penuh isi dengan air.

Malam hari H penyembelihan, Ji’un dan Mardi mengadakan rapat kecil bersama tim suksesnya. Ada 10 orang warga kampung dan beberapa kolega membahas tentang rencana penyembelihan itu. Rapat telah usai, mereka bergegas pulang dan menyiapkan tenaga buat besok.

Kokok ayam pagi memanggil Mardi tuk segera bangun. sinar mentari pagi menerobos masuk melewati lubang-lubang diding rumah Mardi yang masih terbuat dari gedek bambu, itu menandakan Mardi secepatnya datang ke ”pabrik” daging sapi pak Darso, langkah cepat mengiringi Mardi, tak sampai sepuluh menit sapaan Ji’un menggema
”pagi mas Mardi....”
”pagi, gimana semua sudah menampati posnya masing-masing?” selorohnya, ”semua sudah siap sedia ndan, 86...” gaya Ji’un laksana polisi yang berpangkat Bripka.

******/***********/***********

Satu persatu sapi-sapi itu dipersiapkan di tempatnya, Limousin, metal, brahma dan beberapa sapi putih Jawa lainnya. Masih ingat anak penggembala tadi? Sagi, ya Sagi anak kecil duduk termenung di pojok kandang, kedua bola mata anak itu bebinar melihat tingkah polah orang2 dewasa itu. Selang berukuran 1,5 inchi dimasukkan paksa ke mulut-mulut sapi itu, ”ghrrrreeeehhh..... mooooooghhhhhhhhhh...” ronta sapi, satu persatu selang terpasang di congor sapi, air mulai mengalir dengan derasnya dari bak penampungan air belakang kandang. Mardi, Ji’un dan bebarapa koleganya duduk sambil mengisap tokok tingwe, canda mereka melukai hati Sagi, tawa mereka melukai sapi-sapi dan tawa mereka membawa keuntungan yang berlipat bagi pak Darso, bos mereka.

Tenaga sapi-sapi yang kering gering itu tak kuasa melepaskan ikatan dadung yang mengikat kuat keempat kaki dan tubuhnya, ronta mereka menambah deras laju air masuk kedalam lambungnya, sesekali mereka memuntahkan, menolak air yang masuk kedalam mulutnya, untung tak diraih malang tak dapat ditolak, mereka pasrah dengan apa yang dilakukan oleh manusia-manusia itu, jikalau mereka dapat bicara mungkin sudah menelepon 911 ”may day... may day... may day... penganiayaan terjadi di sini....” tapi suara mereka hanya erangan dan meronta menghabiskan sisa tenaga tuk melepaskan diri. Sudah 2 jam tali temali itu mengikat kuat erat tubuh mereka, hingga membuat semua berubah total, 2 jam yang lalu, tubuh kering gering menjadi gemuk subur, lemas... ya lemas dengan 0 energi di dalam tubuh mereka, kepala mereka thela-thelo lemas.

Mardi, Ji’un dan rekan2nya melepaskan satu persatu tali yang melekat di tubuh sapi-sapi itu, ”bruggggggggghhhhh......” limousin tersungkur di tanah diikuti metal, brama dan puluhan sapi jawa lainnya. Biarpun tubuh mereka tlah menggelembung tambun, selang-selang itu masih tertancap di mulut, kucuran air terlus masuk deras ke lambungnya. Mata mereka mlorok pertanda kesakitan yang teramat sangat, Sagi perlahan menundukkan kepala, buliran air menetes deras dari kedua bola matanya, sesekali terdengar senggukan, tapi dia anak yang kuat, biarpun bodoh tapi dia anak pintar, anak yang tau mana yang seharunya dan tidak boleh terjadi. Tapi keberanian dan kekuatan tuk melawan belum bisa keluar dari raganya yang kecil itu, 13 tahun umurnya.

Jam sudah menunjukkan angka 1 siang pelepasan selang2 yang tertancap di mulut sapi itu harus dilepas. Keadaan yang mengenaskan, antara hidup dan mati, pasti sapi2 itu pilih mati saja saat ini, setelah 6 jam dipaksa meminum air yang berjumlah puluhan kubik. Mereka hanya bisa tidur tanpa bisa berbuat banyak. Istirahat siang, makanan dan minuman tersedia lengkap di pendapa rumah bos Darso, para pekerja termasuk Mardi dan Ji’un melahap hidangan dengan canda ria tanpa memikirkan apa yang telah mereka kerjakan adalah penyiksaan, sapi juga mahluk tuhan, ada cara yang halal tuk penyembelihan.

Ya... karena faktor uang lebih, Pak Darso melupakan hal itu, yang ada di pikirannya hanyalah untung, untung dan untung. Bayangkan dengan Rp. 45.000/Kg dengan satu sapi glonggongan mendapatkan 3-4 kuintal daging murni, belum termasuk pernak-pernik lainnya, ada tulang, ada kulit, ada kepala dan lainnya yang menempel di sapi. Setiap sapi menghasilkan keuntungan bersih 4 juta tinggal mengalikan berapa puluh sapi yang di potong, bandingkan dengan penyembelihan tanpa glonggongan satu sapi maksimal keuntungannya hanya 1,5 juta. Jauh banget.

Sapi-sapi yang telah tegulai lemas dibiarkan sampai tengah malam, sekitar 12 jam. Jarum jam menunjuk angka 11 malam, mereka harus kembali ke rumah Pak Darso untuk mulai memotong dan pengklasifikasian sesuai dengan bagian masing-masing. 4 jam berlalu 15 sapi itu selesai di proses, dikemas dan didistribusikan ke pedagang jaringan dading glonggongan, paling jauh adalah Jakarta dan Surabaya. Setiap 4 hari selama bulan ramadan sampai H-7 lebaran Pak Darso melaksanakan ”penganiayaan” terhadap minimal 10 sapi, dan disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

******/***********/***********

Hidup bergelimang harta, anak, dan isteri yang setia membuat Pak Darso bagaiakan hidup di surga, nikmat, nyaman, aman dan sejahtera. Suatu malam tanggal 14 Apit dalam penanggalan jawa, pikiran Pak Darso tidak tenang, seperti ada sesuatu yang mengganggu kenyamanan hidupnya, jam menunjukkan pukul 11.30 mata Darso belum terpejam, lampu dimatikan mencoba sekuat tenaga tuk memejamkan mata, akan tetapi tetap mata itu tak mau menutup malahan membelalak terbuka sampai pukul 00.20 Pak Darso mendengar kegaduhan di pendopo rumah belakang. ”ada apa itu” gumam Darso dalam hati, kaki-kaki gembul dia melangkah melewati kilauan marmer lantai rumahnya, dibuka pintu butulan belakang, seketika Pak Darso terperanjat, matanya melihat puluhan bahkan ratusan sapi yang berjoget riang gembira, kilatan lampu laser mengiringi hentakan musik, menggoyang tubuh sapi-sapi itu, aneka macam makanan dan minuman sapi tersedia melimpah ruah di pendopo yang memang sangat lapang, kaki gembul Darso menggigil mencoba sekuat tenaga lari sekencang-kencangnya, Darso tak peduli lagi dengan meja, kursi, tape deck dan perlengkapan rumah lainnya. Bruhgh... brah.... glondang.... pyarrrrr.... semua di terjang lari tunggang langgang, sorak sorai sapi-sapi itu terus mengejarnya, semakin kencang berlari semakin meriah, semakin semarak suara sapi-sapi itu.

Selama 4 jam Darso lari dan bergelinjang ketakutan, keringan mengucur membasahi baju tidur sutranya. Isteri, anak dan banyak tetangga berkumpul dirumah mewah itu mencoba menenangkan pak Darso, tapi penglihatan mata dan suara yang terdengar hanyalah kejaran dan suara sapi-sapi itu. Hingga kumandang adzan subuh pak darso masih bergelinjang berlari kesana-kemari, tak satu orangpun yang berhasil memberhentikannya. Semua terlihat mencekam ketakutan, ”sapi.... sapi.... sapi itu, pergi... pergi.. pergi.... oh..... tidak, jangan jangan injak-injak aku, ampuni aku, jangan jangan, janga................nnnnnnnnnnn...,” ”brugggggghhhhh... pyarrrrrrrrr” tubuh tambun Pak Darso rubuh menimpa keramik hias, pecah, berantakan.

Semua diam, berkumpul dirumah itu, setelah menunggu sejam akhirnya dia siuman, diminumnya air putih. Rasa ketakutan masih terlihat jelas di muka pak Darso, matanya memandang curiga setiap orang yang datang.

Sebulan telah berlalu kondisi pak Darso masih sama, yang kelihatan berbeda hanyalah tatapan kosong dan ketakutan serta bentuk tubuhnya, yang dulu gendut tambun sekarang kurus, hanya dalam satu bulan saja. Hingga suatu ketika seorang kiayi, salah satu teman Pak Darso, menjenguk, dia sudah mengetahui secara detail akar permasalahannya. Dibimbingnya pak Darso oleh kiai itu, perlahan namun pasti jiwa pak Darso mulai pulih, ”kamu harus tobat, tidak mengulangi cara itu lagi, dan satu yang pasti kamu harus minta maaf ke pada anak kecil itu” kata pak kiayi sambil menunjuk Sagi. Tetap bocah itu, duduk termenung di kursi kecil pojok ruangan itu, anak yang setia, anak yang terlupakan.

Jiwaku kembali

”hey...”
Suara itu terdengar lagi, suara yang tak asing di telingaku. Kubalikkan badan ini sejurus kemudian, kedua tangan lembutnya memeluk erat tubuhku, hangat. ”bagaimana kabarnya, 5 tahun kita tak berjumpa” getaran bibirnya membuat sekujur tubuh menggigil, atara percaya dan tidak, lidahku kelu tubuhku dingin. ”so far so good Ran, how about ure self?” balasku.

Senja itu di sebuah kota pesisir kunikmati pemandangan matahari terbenam, sepoi angin menggoyang jiwa mengantarku ke tingkat yang selama ini tak pernah ku bayangkan. Semburat jingga di atas garis horizontal pantai membuat dingin suasana, lebih dari 10 menit kami berpelukan erat, sedikitpun kata terucap. Perlahan ku lepaskan pelukku, kuberanikan diri memandang wajah cantiknya, pancaran sinar wajahnya mengalahkan langit jingga sore itu, untung kaca mata hitam ini masih menempel di kedua mataku.

”sudah lima tahun tidak ada kabar, benar-benar berpisah” lirih suaraku memulai bincangan ini. ”selama ini saya dan ibu tinggal di Padang, tak pernah sedikitpun waktu hilang tanpa sosomu yah...” Nafasku sesak, hati dan jiwaku bergetar hebat, tak berapa lama air ini mengalir pelan membasahi pipiku, kata-kata yang selama ini aku nanti, kudengar kembali, yah... Ayah.... Lembut tangannya mengusap linangan ini, ”semua sudah terlajur yah, kemana saja selama ini, semua merindukan ayah, tak terkecuali Bunda, selalu merindukan kehadiran ayah di sisinya.” mata ini hanya menerawang jauh ke arah ombak yang berkejaran, buih-buih putih berkata penuh harap, andaikan aku mampu kan kuhapus pita kelam selama lima tahun ini dari kehidupan ku, kami.

Sang mentari telah menutup diri, berdiam diperaduannya, kami masih duduk termenung sesekali saling berpadangan. Sedikit kata yang terucap, tapi hati kami telah berkata ribuan bahkan jutaan kalimat. ”selama ini aku tak tau apa yang terjadi, kerjaan memaksa aku untuk memjelajah samudra, hati ini slalu mengajakku tuk kembali pulang, berkumpul dalam hangatkan belaian kalian, bagaimana ibumu, sehat dan bahagiakah, apakah kamu sudah mendapatkan ayah yang baru?”
” Bunda masih seperti yang dulu, mengurusi butiknya, mendesain dan mengurusi aku, Bunda belum menikah, kelihatannya masih menunggu ayah kembali,” polah tingkahnya masih sama seperti yang dulu, perlahan badannya disandarkan ke pundak ini, dituntunya tanganku tuk membelai lembut rambutnya. Masih sama seperti yang dulu.

”Ayah masih bimbang Ran, masih mencari cara yang tepat tuk kembali kepelukan kalian, ada rencana kearah sana, sambil menunggu waktu yang tepat. Sekarang kamu dimana, kok tau2 sampai di sini?”
”sekarang aku kuliah di UKN, ambil jurusan Desain, pengen meneruskan usaha Bunda” ucapnya manja, ”Ayah secepatnya harus kembali ke rumah, biar nanti saja yang mengurus rujuk Ayah sama Bunda, aku pastikan Bunda masih dengan senang hati menerima Ayah, ya yah...?”

Keegoisan pikiran sampai saat ini masih mengalahkan kata hatiku, jalan pikiranku tetap menuntunku ke arah kebebasan gerak. Entah sampai kapan aku kan kembali ke tempat sebenarnya, yang pasti kusatukan tujuanku dulu.

Dekil kecil tak berdosa

Hamparan debu menaungi panasnya siang yang seakan menghujat kerasnya raungan mesin jalanan kota. Terik sinar mentari selalu bertambah panas dari jam ke jam, di sini semua saling mendahului, tak peduli dengan situasi.

Tampak pandangan kosong bocah kecil dan lusuh dari seberang jalanan, murung dan membisu seakan ingin muntahkan emas berlian. Sejenak bermimpi tapi itu sanggunp ia jalani, hanyalah sepotong gulali pemanis dari kehidupan. Semakin lama kita disni semakin membuncah pikiran, menerawang jauh diawan di padang siang gersang.

Sebuah kejadian menyebabkan kejadian lain, hampa terasa ketika kejadian itu tak cepat terproses serta dipojokkan dengan keadaan. Di sini semu terasa kosong, mlompong, tak pun harapan yang membangun semangat tuk pergi. Mungkin hanya sebatas angan hampa tanpa terproses waktu, saat ku bertanya benarkah kehidupan itu punya roda, benarkah roda kehidupan itu berjalan, dan kemana arah tujuan dari roda-roda itu mengantarkan sang majikan.

Mungkinkah Si kecil itu punya roda, melihat saja dia seakan enggan, apalagi menapaki jalanan pagi. Dia selalu dan selalu melihat hamparan debu menaungi panasnya siang, dia raja seberang jalan. Bahagiakah dengan ini semua, tidak, silaukan tipuan mata lahir, bukan padangan sekejap para pengguna jalan namun lebih pada isi dari kehidupan yang dia jalani, kehidupan dan kekurangan yang sangat menyebabkan dia berusaha membahagiakan kehidupannya sendiri dengan cara dia sendiri. Siapa yang peduli?

Segelintir dari kita ingin meluangkan waktu tuk berbagi, maklum bila penebar air mata jalanan ini menangis terharu dan tersapu kabut asap, samar. Mereka tak merasakan itu, bermain dengan mobilan bahan kelupasan aspal. Bahagia, Kudapatkan pancaran itu dari dia. Bukannya tidak ingin berbagi tapi kita belum menulis rangkuman dan mempraktekkan dari apa yang kita baca. Bacalah tanpa henti keadaan ini, terasa takkan sia-sia, semua harus mendapatkan kesempatan dari sekecil apapun lubang kesempatan itu.

Dimana arti gemah ripah loh jinawi itu sekarang?

Jumat, 24 Juli 2009

Bendera hitam, maha seni yang rusak....

Kebebasannya mengantarkan dia sampai ke tiang tinggi, dimana bendera hitam telah ia letakkan di sana.

Kegagahan bendera itu menyiratkan sebuah arti kematian batinnya, setiap orang yang bisa melihat dengan seksama tulisan yang tersemat di dalamanya akan bertindak dan berlaku kasar. Ini bukan sebuah kiasan atau sebuah ancaman, melainkan sebuah keharusan tindakan yang mesti dilakukan.

Kabut tebal turun perlahan diantara rindang pohon, suasana dinginnya menelusuri relung jiwa kosong ini. Sepoi angin pagi menggoyangkan dedaunan yang terekat kuat di ranting-ranting pohon pinus. Pagi ini aku berjaket tebal dan di dalamnya masih menggunakan kaos rangkap berwarna cokelat bermotif garis. Terasa hangat dan yang terasa hanyalah kesejukan di raga ini.

Mentari kelihatan malu untuk menampakkan tubuhnya yang seksi, pancaran kulitnya yang kuning, tersembul di antara awan dan kabut tipis, hanya mengintip dari baliknya. Semburat cahayanya menenangkan jiwa ku, pertanda pagi ini hujan tidak turun lagi. Kulihat bendera hitam itu berkibar kencang, bersorak-sorai jauh di atas sana, bermain bersama tiupan angin pagi yang dingin. Aku paham akan kedinginnya, aku melihat dengan seksama kesendiriannya di sana, dan itu adalah sebuah pertanda bahwasannya dia menginginkan turun dan berkumpul menghangatkan bandannya yang semalam terkerubut kabut air.

Bendera hitam, yah bendera hitam itu senantiasa mengingkari hatinya untuk berhenti berkibar, bergoyang dan bersorak-sorai. Kesendiriannya terlihat jelas diantara keramaian pasar tradisional. Berdiri tinggi, sangat tinggi dan tertinggi di antara yang lainnya. Pagi itu terlihat melintas seorang penjaga gedung mewah yang bercat putih, lebih tepatnya kuning gading, berjalan pelan menahan kantuk. Perlahan dia mendekat ke tiang dimana bendera hitam itu nangkreng di atas sana, dalam batin aku begumam "tak sopan kamu, lihatlah dibawah sini, ada orang tua dengan berselimutkan sarung kumal dan keletihan karna semalam menjaga kau dan yang lainnya."

Bendeara itu tak menghiraukan apa yang terjadi di bawah sana, apa yang diperbuat oleh orang2 di bawah sini, kau terus bernyanyi dan bersorak kegirangan bersama tiupan angin, seakan kau mencuri perhatian dengan ukuranmu yang besar dan panjang. Setiap orang yang melintas melihat sekilas ke arahmu, tak kau lihatkan, tak kau pahamkah selama ini banyak diantara pelintas itu memperhatikan dan mengagumimu. Ah... bendera ya tetap bendera tak menghiraukan apapun yang ada dan terjadi di depannya, kau tetap saja bergoyang dan melambai seakan menggoda setiap orang yang dapat tergoda.

Ketakutanku selama ini, kesedihanku selama ini, kenapa harus bendera hitam yang ada di ujung sana, kenapa tidak kau kibarkan saja bendera sang saka merah putih, kenapa tidak kau kibarkan saja bendera partai yang beraneka warna dan berdesain indah. Kenapa kau kibarkan benderah hitam yang menghiasi taman dan gedung indahmu itu. Semua itu karena kebiasaan ataukah memang kesalahan kau memilih warna, apakah tidak kau ketahui sekian banyak orang yang melintas tau bahwa itu adalah lambang dari kejelekan, lambang kebusukan dan lambang dari hal2 yang tidak disukai oleh orang yang normal.

Bendera hitam terus bergoyang menantang alam, hingga suatu ketika ujunnya mulai rapuh dimakan masa, ujungnya mulai sobek dimakan sinar mentari dan tiupan angin yang kencang, ujungnya mulai hancur dimakan usianya. Dirimu akan musnah tanpa sisa dan yang terasa hanyalah penyesalan, bendera hitam telah hilang musnah. Kucoba mendekatimu, kucoba merayumu untuk turun dengan seabrek aktifitas yang tak kau sadari merusak dirimu sendiri, kucoba menarik tali yang mengikat erat aktifitasmu, perlahan kudekati tiang itu, melepaskan tali erat yang terikat di tempatnya.

Kebaikanku mengantarkan aku sampai sejauh ini, menurunkanmu, mengusapmu, menenangkanmu, dan pada akhirnya aku mengusap dan memperbaikimu, walapun aku belum yakin apa yang aku lakukan ini akan mempertahankan tubuhmu. Aku hanya mencoba untuk melakukan sebuah penyelamatan kehancuran yang ada di depanmu. Terus kucoba melipatmu menggunakan kedua tanganku, kasian melihat tubuhmu yang telah rusak, pecah, sobek, dan sebaian telah menjadi rapuh karena keasyikanmu selama di atas sana.

Selama aku memeganggu kuberikan sebuah perbaikan sana-sini, kijahit sobekan itu, ke tambal bolongan itu, dan ku cuci walaupun tidak mengembalikan kebentuk awalmu. Terus kucoba memperbaikimu, entah sampai kapan ini akan berlangsung, selama masih di pegangan tanganku kupastikan terawat dan terlindungi.

Bendera hitam, air matamu menetes pelan kebawah, sekan menyiratkan keinginanmu terus bersamaku, terus berada dalam genggaman tanganku dan tersirat keinginan dibuatkan sebuah kotak tempat menyimpanmu. Tapi aku tak punya cukup waktu dan cukup uang untuk membuat semua itu, bukannya aku tak mau, aku tak ingin memilikimu, aku hanya ingin membantumu menjadikan sebuah bendera yang terlihat rapih, aku telah mencoba tapi kamu bukan milikku, jadi aku tam mau memilikimu juga, aku hanya ingin membantu merawatmu, membenahimu karena selama ini tidak ada orang yang memperdulikanmu. Mereka hanya memandangmu tanpa memberikan sebuah sentuhan yang nyata kepada tubuh indahmu.

Aku telah berusaha dan mencoba memperbaikimu, aku tak bisa memilikimu, dan aku juga tak mau memilikimu, semoga tindakanku ini bisa membantumu, bertahan menjadi bendera hitam yang memiliki asa, dan semoga dikemudian hari kamu menemukan orang yang benar2 mau merawatmu, menyimpanmu dalam kotak mewah seperti yang kau inginkan. Bendera hitam sebuah kekuatan yang jika salah menempatkan akan berubah menjadi tanda kebejatan, dan yang jika benar dalam menempatkan kamu akan menjadi sebuah produk seni yang mengagumkan. Kebaikan itu ada di pribadi kamu, selama kamu mau dan berusaha menemukan tempat itu, kebahagiaan akan tersemat di dirimu, aku yakin akan hal itu.

Bendera hitam, semoga kebersamaan yang singkat ini menjadikan pelajaran, dan kau selalu ingat dan menjaga perawatanku yang hanya sedikit itu. Semoga...............!!!

Jumat, 19 September 2008

Keberanian kambing BLT BBM

Sehari setelah isu itu tersebar luas melalui media massa, hati dan perasaanku tak enak, dihantui kesalahan yang teramat sangat hingga menyebabkan tidur dan makan tak enak.

Hari itu Sabtu, dimana seharusnya saya menikmati bantuan dari pemerintah yang lebih dari cukup buat kami dan keluarga.
Semua masalah itu terjadi karena musyawarah mufakat warga kampong, musyawarah yang selalu datang dari satu orang dan itu di anggap terbaik dan (selalu) di sepakati oleh seluruh warga. Tidakkah terbetik sedikitpun tentang uneg-uneg setiap warga lemah, seperti auman singa diantara ribuan embikan kambing. Setiap waktu kejadian itu selalu terulang, dan kahirnya giliran keluarga kami yang mendapatkan bebendu itu. Dikucilkan warga.

***
“para sedulurku kabeh sok Setu bantuan BLT mudun” keras dan lantang, suara itu keluar dari mimbar depan deretan tempat dudukku. Sambil mengusap-usap jambangnya yang sudah mulai tumbuh lebat, pak Margo begitu warga memanggil ketua RW V Harjo Winangun, berperawakan tinggi besar, warna khas kulit warga petani desa, mengumumkan tentang bantuan langsung tunai atas kenaikan harga bahan bakar mesin kepada seluruh rakyat Nusantara ini. Tepuk tangan serta suara riuh rendah menggema memenuhi ruangan itu, sesekali asap rokok keluar dari mulut saya sambil berbincang-bincang dengan kang Karto.
“meh diapakan lagi ya kang, yang penting kita setuju saja kang” bisik saya tepat di samping telinga kang Karto. “wis pokoke ikhlas, meh dik enggo opo wae yoben, apalah artinya usulan kita di mata meraka, benar ndak dimas?” kekehan khas kang Karto membentuk alunan nada syahdu seperti nyanyian camelianya Ebit G Ade.
Setelah beberapa saat Pak Margo diam sejenak sambil menikmati penghormatan dari warganya, “saya mempunyai gagasan, pandangan, dan angan-angan, supaya bantuan itu kita ambil secara kolektif, setelah itu kita gunakan untuk membangun pos ronda dan bak air di pojokan rumah saya.” Ocehan panjang dan lebar yang menegaskan kearoganan pak Margo Mangundirowo, suasana menjadi hening, diam seribusa basa, penghuni aula itu saling pandang satu sama lain. Naungan asap rokok tebal, sumpek, telah menggambarkan dengan jelas tetang sesuatu yang berkecamuk di dalam sanubari kami, termasuk saya.
“bukannya tujuan utama dari bantuan itu untuk kesejahteraan warga miskin pak RW?” wow…wow…wow… ternyata di atara kumpulan kambing ini ada seekor anak singa, ya suara tadi kelaur dari mulut kan Karto, tak kusangka dia sehebat dan seberani itu.
“Karto… itu kan menurut kamu, sedulurku kabeh kepentingan umum harus di atas kepentingan pribadi, jadi kita sepakati saja sesuai usulan saya tadi, bagimana setuju?” watak asli pak Margo mulai terlihat, tetapi warga tetap menganggap itu adalah kebenaran, “setuju…..,” paduan suara warga Harjo Winangun, dan musyawarah telah mufakat, rapat bubar.

****
Pundak ini terasa berat seakan tertimpa segelondong kayu jati “Wardi… bilang sama kakangmu, ora usah golek perkara sama saya, kalau dia macam-macam tak laporkan polisi nanti, bilang sama kakangmu…,” sejak saat itu keluarga saya selalu menjadi buah bibir warga kampong bahkan satu desa telah memahami isu tersebut, kami sekeluarga mendadak menjadi seperti buronan negara. Di perempatan, di warung, di sawah, di sendang dan di semua sudut desa pembicaraan terhangat tentang kelakuan “jelek” keluarga kami. Bagi kami yang warga miskin, dan sebagai buruh serabutan uang 300 ribu teramatlah banyak, dan itu bisa untuk membayar tunggakan utang.
Sinar matahari pagi menyembul di balik pohon pisang kebunku, suara embikan kambing menggugah semangatku untuk merumput. Pagi itu sekita jam 10 saya bersama dua teman dan kang Karto pergi ke ladang untuk merumput dan menanti pemakai jasa kami. Dari arah selatan berjalanlah tiga orang wanita, ada yang membawa kamera, video shotting dan mereka memegang pulpen dan buku kecil. Dalam batin saya siapa mereka, kalau dari pakaian dan barang bawaannya sepertinya wartawan, benar sekali dugaanku, di bajunya tertulis SA TV, Solo News, dan Kampus. “Permisi bapak-bapak, apakah benar ini desa Harjo Winangun?” Tanya seorang gadis berparas cantik berbalut jilbab di kepalanya, “nggih benar mbak, memangnya ada apa to mbak?” ucap Sarjo, “monggo duduk di brak sini mbak, sambil istirahat,” pinta Ucup kepada para mbak wartawan tadi.
“wah terimakasih bapak, oya… bapak-bapak ini warga Harjo?”
“betul mbak” paduan suara itu muncul kembali, “kebetulan nih, saya dari jurnlis mau wawancara sedikit tentang kasus bantuan BLT BBM pak.”
“oya… mari kita berbincang apa adanya mbak,” semangat kang Karto seperti mau di ajak rekreasi saja. Obrolan kami berlanjut sampai matahari condong ke barat, dan percakapan ini berakhir.
”terimakasih bapak-bapak atas informasinya, semoga kami dapat membantu, sesuai dengan bidang kami” ucap mbak wartawan tadi, “sama-sama” lagi-lagi koor yang jelak dan tak membentuk irama itu muncul kembali.

****
Berselang satu hari kabar itu telah luas menyebar keluar daerah, satu propinsi, nasional bahkan ke rancah internasional, semua orang telah mendengan dan mengetahuinya. Perasaanku semakin tidak karuan, sedih, takut, dan terkucil. Ketakutanku akhirnya terbukti benar, setelah berita itu terbit di pagi hari, sore harinya pak margo mencak-mencak di depan rumah kami. “Hei… Karto, berani-beraninya kalian menyebar fitnah, mencemarkan nama baik saya, lihat saja nanti saya akan melaporkan ke pihak yang berwajib,” gertak pak RW. Egois, sombong, angkuh, jahat, semua watak jelak muncul dihapan kami.
Keesokan harinya beberapa polis menyerahkan surat pemeriksaan terdap kang Karto, “pak, mbok, dimas, sudah tidak usah pada takut, kita akan menguak kebenaran, dan itu pasti akan ada jalannya, kita pasrah kepada yang maha memiliki.” Waktu berjalan melambat, hari-hari kami lalui dengan perasaan gelisah, mulut ini tak terlepas dari dzikir dan doa. Semua berjalan sesuai kehendaknya, Allah selalu menpati janji-janjinya, bersama, keluarga miskin ini telah melewati badai yang jika dinalar tidak bisa melewatinya, tapi dengan seijin-Nya semua berjalan dan berakhir dengan kebahagiaan. Semua orang sekarang tau, mana yang benar dan mana yang salah, kang Karto tersenyum puas. “bulan depan ada pemilihan ketua RW baru kang, dan kakang salah satu kandidatnya,” kataku pada kang Karto. Semoga….

Kamis, 18 September 2008

Pengelana

Kabut merubah segala warna menjadi lebih putih, menyejukkan bahkan membuat gigil tulang-tulang ini, pagi hari di lereng merapi berlatarkan suara nyanyian syahdu burung kenari dan tarian kupu-kupu di taman bunga menjadikan indah senin pagi pertengahan bulan Agustus itu.

Hampir setengah jam aku menunggu mentari, mandi cahayanya yang menghangatkan kehidupan, membangunakan benak, penat bahkan konak yang sedari tadi malam selalu menggelayut di depan mata. Satu jam telah berlalu, tatap malu mentari mengujam mata hati ini, redup terasa sinarnya, tak seperti biasa yang memang menyengat.
Kabut putih mengintari pemandangan yang seharusnya terlihat asri, tidakkah ini pertanda hari akan segera hujan, ataukah hanya angin yang bertiup berlahan berlalu dan tanpa meninggalkan partikel kabut itu meresap ke tanah, ataukah hanya sebuah pralambang akan terjadinya suatu kejadian. Aku berharap yang terakhir tidak, walaupun banyak warga kami yang dahaga karena merana tanpa air, kering kerontang gurun pasir.
Suara itu berkumandang dari corong mushola dekat rumah saya, ngeprek, menggema -karena echo di apmlifier terlalu besar- menjadikan suara itu seperti pencari rongsok. samar-samar tidak jelas suara itu terselundup di balik lubang2 rumah saya. "Innalillahi wa innaillaihi roji'un...." itulah kata yang jelas terdengar di telinga kami sekeluarga. Tak pelak kami langsung berucap sama "innalillahi wa innaillaihi roji'un" koor serempak bak paduan suara Voca Erudita dari UNS yang terkenal itu, nyaring tanpa tatanan notasi. Saling pandang dan bertanya dalam batin masing-masing, gerakan reflek memang tak bisa di tahan hati bersuara bak kapten kapal sang otak kepala ini menyuruh para awak kapal melangkah keluar memacu laju baling2 kapal 200 knot. Di jalanan penuh sesak dengan orang2 yang penasaran, siapa gerangan yang menghembuskan nafas terakhir, tafakur dan dinginnya lereng Merapi pagi itu menjadi menggigil. "mbah Sarinem meninggal" lagi Voca Erudita anak desa menggema, ini tambah parah, antara nada treble, bas, dan string berjalan sendiri-sendiri, tidak satu padu, batin ini tertawa terbahak-bahak tapi apakah sopan atau bahkan kurang ajar kalo saja saya menuruti kapten kapal?. Bergegaslah kami sekampung menuju tempat persemayaman mbah Sarinem di desa Tegalsari, ada yang guyon, sedih tapi tidak sampai meneteskan air mata, ada yang tenang biasa saja.
Mbah Sarinem merupakan seorang nenek yang berumur 80 tahunan tanpa seorang anak, orang bilang dia itu gabuk, tapi mempunya tiga anak angkat yang dipelihara semenjak kecil hingga berumah tangga, dia bernama Sagi, Wiji dan Kemat. Dahulu kala mereka adalah keluarga yang harmonis karena beberapa hal mereka saling membenci pro dan kontra istilah ilmiahnya. Pro dengan siapa dan kontra dengan siapa semua tidak tau pasti, isu yang menyebar adalah tentang harta warisan. Sagi diberi pekarangan seluas 2000 meter persegi, Wiji yang perempuan memperoleh ladang 500 m, dan Kemat paling banyak bagiannya, yaitu pekarangan 2000 m dan ladang 500 m. Itulah sebabnya si Sagi sama Wiji tidak pernah setuju dengan ketok palu sang ibu angkat mbah Sarinem. Mulai hidupa berumah tangga hingga ibunya sakit kritis mereka tidak menengok barang sekalipun ibarat Asu sama Kucing, hingga ibunya sakit parah sekalipun mereka tidak mau menengok. Anehnya ketika ibunya meninggal dunia mereka mengaku-aku bahwa AKU lah yang merawat. Tangis sinis dan ironi di tunjukkan kepada semua peziarah yang menghadiri acara permakaman mbah Sarinem.
Senyum kecut itu juga terlontar dari bibir ku......

Senin, 28 April 2008

Pertahankan Hidup...

Hamparan debu menaungi panasnya siang yang seakan marah akan kerasnya mesin-mesin. Di sini semua merasa ingin dan keluhan terus terucap dari kedua bibir, hamparan sinar matahari selalu memberi lebih panas dari jam ke jam berikutnya.

Sejenak terlihat pandangan kosong bocah kecil dan lusuh dari seberang jalanan, terlihat murung dan membisu seakan ingin muntahkan emas berlian. Sejenak bermimpi tidaklah sanggunp ia jalani, hanyalah sepotong gulali pemanis dari kehidupan. Semakin lama kita disni seakan membuncah pikiran, menerawang jauh diawan di padang siang gersang.

Sebuah kejadian menyebabkan kejadian lain, hampa terasa saat kejadian itu tak cepat terproses dan dipojokkan dengan keadaan. Di sini semu terasa kosong, mlompong, tak terdapat sebutir harapan yang membangun semangat tuk pergi. Mungkin hanyalah sebatas angan yang membuncah tanpa terproses oleh waktu, saat ku bertanya benarkah kehidupan itu punya roda, benarkah roda kehidupan itu berjalan, dan kemana arah tujuan dari roda-roda itu mengantarkan sang majikan. Si kecil itu tak punya roda, melihat saja seakan enggan, apalagi menapaki jalanan pagi. Dia selalu dan selalu melihat hamparan debu menaungi panasnya siang, dan selalu merajai seberang jalanan. Bahagiakan ini semua, tidak, salahkan tipuan mata lahir, bukan padangan sekejap para pengguna jalan namun lebih pada isi dari kehidupan yang dia jalanin, kehidupan dan kekurangan yang sangat menyebabkan dia berusaha membahagiakan kehidupannya sendiri dengan caranya sendiri. Segelintir dari kita ingin meluangkan waktu tuk berbagi, maklumlah penebar air mata jalanan ini menangis terharu dan tersipu depu. Mereka tak merasakan itu, bermain dengan mobilan dari kelupasan aspal. Bahagia. Kudapatkan pancaran itu dari dia, bukan tidak tetapi belum kita menulis dari apa yang kit abaca. Bacalah tanpa henti keadaan ini, terasa sia-sia, semua harus mendapatkan kesempatan dari sekecil apapun lubang itu.