This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2009

Berhikmah dari udara

”Di sebuah kelas, seorang guru bertanya kepada murid-murid di hadapannya. ”Menurutmu, benda apa di dunia ini yang paling baik bagi manusia?”

Murid-murid tampak berpikir keras. Ada yang tatapannya menyapu seisi kelas, seolah mencari sesuatu. Ada yang bisik-bisik dengan teman sebangku. Dan ada yang tetap diam. ”Air, Pak Guru!” jawab seorang anak tiba-tiba.

”Kamu benar!” ucap pak guru menyambut jawaban seorang muridnya. ”Air memang menyediakan kehidupan. Tapi, tidakkah kamu perhatikan, air cuma mengairi manusia-manusia di sekitar aliran sungainya. Manusialah yang harus menjemput air. Bukan sebaliknya!” tanggap pak guru begitu lugas. Beberapa saat, suasana kelas hening.
”Cahaya, Pak Guru!” ucap seorang murid yang lain. ”Kenapa cahaya?” tanya pak guru memancing. ”Karena cahayalah kita bisa melihat. Bayangkan jika tanpa cahaya. Dunia akan gelap!” jelas si murid begitu mantap.

”Kamu juga benar!” jawab pak guru. ”Tapi, tidakkah kamu perhatikan kalau saat istirahat manusia tak butuh cahaya. Ada saatnya cahaya bisa menemani. Ada saatnya tidak,” ungkap pak guru kian membuat suasana kelas lebih serius.
”Gimana? Ada yang ingin berpendapat?” tanya pak guru memecah keheningan kelas yang mulai agak lama. Tapi, yang ditunggu tak juga muncul. Murid-murid tampak bingung. Tiba-tiba, ada seorang murid mengacungkan jari. ”Udara, Pak Guru!” ucapnya begitu yakin.

”Ya, saya lebih setuju pendapat itu!” ucap pak guru memberikan respons positif. ”Kenapa, Pak?” tanya murid-murid hampir bersamaan.
”Menurut saya,” ucap pak guru sambil menatap murid-murid begitu serius. ”Udara memberi kebaikan dengan mendatangi manusia. Bukan sebaliknya. Tanpa memamerkan diri, ia akan bersusah payah menyelinap di lubang sekecil jarum sekali pun, demi memenuhi kebutuhan manusia. Udara pula yang selalu menemani manusia, di mana dan kapan pun,” jelas pak guru begitu meyakinkan. Murid-murid pun mengangguk setuju.

***
Dalam pentas kehidupan, selalu ada pegiat kebaikan. Mereka memberi tanpa pamrih. Mereka pun berlomba untuk bisa menjadi orang yang paling bermanfaat. Berusaha memberi dengan yang terbaik.
Namun, tidak semua yang baik adalah yang terbaik. Bercermin pada tiga makhluk Allah seperti air, cahaya, dan udara mungkin akan menambah nilai kebaikan. Bahwa, produk kebaikan harus mengejar, bukan dikejar. Dan yang menarik, ia selalu bersama dengan yang membutuhkan, walaupun orang tak menganggap keberadaannya.
Kalau saja pegiat kebaikan memahami peringkat udara, ia pasti tak akan berpuas diri hanya sebagai air atau cahaya.

Sumber: www.eramuslim.com

Sabtu, 22 Agustus 2009

Puasa bersihkan jiwa

Ustad Drs Ahmad Sukina, Ketua Umum Majlis Tafsir Alquran (MTA)
Allah berkehendak untuk mengangkat derajat orang-orang yang beriman ke tingkat yang tertinggi yakni takwa. Sebagaimana kita ketahui, yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa.

Untuk itu, Allah menyediakan mekanisme untuk menjadi orang bertakwa melalui puasa Ramadan. Puasa tidak sekedar membiasakan diri agar tahan lapar, haus dan tidak bersetubuh dengan suami/istri. Walau semua itu bukan pekerjaan mudah. Itu memerlukan kesungguhan untuk bisa melaksanakannya dengan baik. Padahal pada hari-hari biasa, semua itu halal bagi setiap orang Islam. Betapa hebatnya orang yang sukses dalam puasa Ramadannya, karena terhadap hal-hal yang halal saja dia mampu mengendalikan diri, karena ketaatannya kepada Allah. Sudah pasti orang seperti ini akan mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah di luar Ramadan.

Namun di samping mengendalikan diri dari makan, minum, dan berhubungan dengan suami/istri, orang berpuasa diwajibkan pula untuk mengendalikan tutur kata dan perbuatannya dari kedustaan. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa orang yang berpuasa tetapi tidak mengendalikan tutur katanya, masih berdusta dengan lisan dan amalnya, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya. Hadis ini mengingatkan agar umat Islam memahami hakikat puasa dan menjalankan puasa secara hakiki, tidak sekedar formalitas untuk memenuhi syariat puasa. Meskipun puasa kita masih sah menurut syariat Islam, namun kalau tidak membawa kepada tujuannya (takwa), maka kita termasuk rugi. Yang ingin kita raih dalam setiap amal perbuatan adalah rida Allah. Rugi sekali kalau Allah tidak rida, tidak butuh lapar dan haus kita. Na’udzubillah.
Lebih dari itu, puasa menuntut kita untuk pandai mengendalikan hawa nafsu. Hanya orang-orang yang teguh mengendalikan hawa nafsu yang mampu berbuat taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan senang hati, mereka akan mengorbankan keinginannya untuk Allah. Dengan senang hati, mereka berusaha membersihkan kekotoran jiwanya untuk mendapatkan rida Allah. Dengan senang hati, mereka membimbing hawa nafsunya agar senantiasa sesuai dengan kehendak Allah. Mereka yang senantiasa membimbing diri untuk berbuat taat kepada Allah dan rasul-Nya, dinilai Allah sebagai orang yang telah memperoleh kemenangan yang besar. Firman Allah dalam QS Al Ahzab: 71, ”Wa man yuthi’illaaha wa rasuulahu faqad faaza fauzan ‘adhiima”, barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang besar.
Sebaliknya, bila puasa Ramadan kita tidak membuahkan kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsunya, orang seperti ini akan berisiko disesatkan Allah (QS Adz Dzariyat: 23).

Saudaraku, agar puasa kita berbuah kenikmatan yang kekal di akhirat, maka jangan sampai kita terjebak formalitas dalam berpuasa. Di samping berusaha maksimal untuk tidak makan, minum, dan bersetubuh dengan suami/istri, mari kita bersihkan jiwa kita dengan menjaga lisan kita dari berbuat doa. Kita jauhi dusta, ingkar janji, gibah, apalagi fitnah. Kita bersihkan jiwa kita dari munculnya keinginan-keinginan untuk berbuat maksiat. Sadari bahwa di samping kanan dan kiri kita ada malaikat Raqib dan ‘Atid yang selalu teliti mencatat amal kita dan kita harus mempertanggungjawabkannya. Mari kita bersihkan jiwa kita dengan puasa. Hanya orang-orang yang bersih jiwa saja yang berhak untuk mendapatkan surga-Nya (QS Asy Syu’ara: 89). Jangan lagi puasa kita sia-sia. Ramadan ini harus berbeda dari sebelumnya demi menggapai rida-Nya, insya Allah.
Sumber: www.solopos.co.id

Selasa, 28 Juli 2009

Hakikat pertarungan hidup

Seekor kura-kura tampak tenang ketika merayap di antara kerumunan penghuni hutan lainnya. Pelan tapi pasti, ia menggerakkan keempat tapak kakinya, yang melangkah sangat lamban, ”Plak...plak...plak...!


Tingkah kura-kura itu pun mengundang reaksi hewan lain. Ada yang mencibir, tertawa, dan mengejek. ”Hei, kura-kura! Kamu jalan apa tidur!” ucap kelinci yang terlebih dulu berkomentar miring. Spontan, yang lain pun tertawa riuh.

”Hei, kura-kura!” suara tupai ikut berkomentar. ”Kalau jalan jangan bawa-bawa rumah. Berat tahu!” Sontak, hampir tak satu pun hewan yang tak terbahak. ”Ha..ha..ha..ha! Dasar kura-kura lamban!” komentar hewan-hewan lain kian marak.

Namun, yang diejek tetap saja tenang. Kaki-kakinya terus melangkah mantap. Sesekali, kura-kura menoleh ke kiri dan kanan menyambangi wajah rekan-rekannya sesama penghuni hutan. Ia pun tersenyum. ”Apa kabar rekan-rekan?” ucap si kura-kura ramah.

”Teman, tidakkah sebaiknya kau simpan rumahmu selagi kamu jalan. Kamu jadi begitu lambat,” ucap kancil lebih sopan. Ucapan kancil itulah yang akhirnya menghentikan langkah kura-kura. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu.

”Tak mungkin aku melepas rumahku,” suara kura-kura begitu tenang. ”Inilah jati diriku. Melepas rumah, berarti melepas jati diri. Inilah aku. Aku akan tetap bangga sebagai kura-kura, di mana pun dan kapan pun!” jelas si kura-kura begitu percaya diri.

***
Menangkap makna hidup sebagai sebuah pertarungan, memberikan sebuah kesimpulan bahwa merasa tanpa musuh pun sebenarnya seorang manusia sedang bertarung. Karena musuh dalam hidup bisa berbentuk apa pun, godaan nafsu, bisikan setan, dan berbagai stigma negatif. Inilah pertarungan yang merongrong keaslian jati diri sebagai muslim, aktivis, dan dai.

Pertarungan tanpa kekerasan ini bisa berakibat fatal dibanding terbunuh sekali pun. Karena orang-orang yang kalah dalam pertarungan jati diri bisa lebih dulu mati sebelum benar-benar mati. Ia menjadi mayat-mayat yang berjalan.

Bagian terhebat dari pertarungan jati diri ini adalah orang tidak merasa kalah ketika sebenarnya ia sudah mati: mati keberanian, mati kepekaan, mati spiritual, mati kebijaksanaan, dan mati identitas.

Oleh karena itu, tidak heran jika kura-kura begitu gigih mempertahankan rumah yang membebaninya sepanjang hidup. Walaupun karena itu, ia tampak lamban. Walaupun ia diserang ejekan. Kura-kura punya satu prinsip yang terus ia perjuangkan: inilah aku! Isyhaduu biannaa muslimiin.

Sumber: www.eramuslim.com

Jumat, 17 Juli 2009

Rahasia senyum Rasulullah

Sarana paling besar yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam dakwah dan perilaku adalah gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam.

Jangan ditanyakan efektivitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok penghalang di antara anak manusia. Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah senyuman.

Itulah senyuman yang direkam Alquran tentang kisah Nabi Sulaiman AS, ketika ia berkata kepada seekor semut, “Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ’Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh,” (QS An Naml: 19).

Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Nabi Muhammad SAW, dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya. Saat beliau menahan amarah atau bahkan ketika berada di majelis peradilan sekalipun.

Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.”

Suatu ketika nabi Muhammad SAW didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Rasulullah, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari baitul mal. Nabi Muhammad SAW menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul mal kepadanya.”

Nabi Muhammad SAW tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci, sampai akhir detik-detik hayatnya.
Sehingga tidaklah mengherankan jika Rasulullah mampu meluluhkan kalbu sahabat-sahabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya.

Menyentuh Hati
Nabi Muhammad SAW telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Ia mampu menyihir hati dengan senyuman, menumbuhkan harapan dengan senyuman, menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Nabi Muhammad SAW juga telah mensunahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, ”Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah,” (HR At Tirmidzi).

Bagi seorang muslim, tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi Muhammad SAW yang disunahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim juga meyakini bahwa senyuman memiliki pengaruh sangat besar.

Dale Carnegie dalam bukunya yang terkenal, Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia menceritakan, “Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”

Jumat, 10 Juli 2009

Arti malam dan siang

Di pinggiran sebuah hutan, satu keluarga kelinci mulai beranjak tidur. Malam membatasi gerak anak-anak mereka hanya di sekitar lubang yang menjadi rumah mereka. Walau tak berpintu, anak-anak kelinci seperti melihat dinding tebal antara rumah dan dunia luar.

Seekor anak kelinci bertingkah lain dari yang lain. Sesekali, ia menjulurkan kepalanya ke luar lubang. Ia menoleh ke kiri dan kanan mencari sesuatu yang dianggapnya baru. Tapi, tindakan itu dicegah keras induknya. “Jangan coba-coba lakukan itu lagi, Nak!” teriak sang induk marah.

“Kenapa, Bu?” tanya anak kelinci heran. “Kenapa tak satu kelinci pun yang berani keluar lubang di saat malam?”

Induk kelinci menatap anaknya tajam. “Anakku,” ucapnya kemudian. “Malam sangat berbahaya untuk hewan seperti kita. Ketika malam datang, lubang menjadi tempat yang paling aman buat kita,” jelas sang induk kemudian.
“Bukankah tanah di sekitar sini hanya dihuni para kelinci, Bu?” sergah si anak menawarkan sudut pandang lain.

Induknya tersenyum. “Anakku, justru karena malamlah, kita tidak bisa membedakan mana teman dan mana pemangsa. Sabarlah untuk bergerak sekadarnya, hingga siang benar-benar datang!” ucap sang induk kelinci begitu meyakinkan.

***
Malam dan siang memang bukan sekadar pergerakan sisi bumi yang menjauh dan menghadap ke arah matahari. Ada makna lain dari yang namanya malam. Sesuatu yang menggambarkan suasana gelap, tertutup, curiga, dan ketakutan.

Dalam diri manusia pun punya dua suasana itu: malam dan siang. Malam menunjukkan suasana hati yang picik dan dangkal, dan siang menggambarkan kelapangan dada. Pada hati yang terselimuti malam, orang menjadi mudah curiga, senang dengan yang serba tertutup, sulit memaafkan, bahkan berkecenderungan menjadi pemangsa.

Orang bijak mengatakan, siang adalah waktu di mana manusia mampu membedakan antara pohon nangka dengan pohon cempedak. Selama manusia tidak bisa menangkap kearifan dirinya pada wajah orang yang ditemui, jam berapa pun itu, hal itu menandakan kalau hari masih malam.

Sumber: www.eramuslim.com

Senin, 28 April 2008

Keutamaan Do'a

Saya akan memberitahukan tentang keutamaan doa buat seluruh insan, silahkan anda baca, pahami dan resapsi serta dilaksanakan. Doa merupakan obat yang paling mujarab untuk manusia yang beriman dan bertaqwa.

  1. Do'a adalah otaknya (sumsum / inti nya) ibadah. (HR. Tirmidzi)
  2. Do'a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya'la)
  3. Akan muncul dalam umat ini suatu kaum yang melampaui batas kewajaran dalam berthaharah dan berdoa. (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Penjelasan:Yakni berdoa atau mohon kepada Allah untuk hal-hal yang tidak mungkin dikabulkan karena berlebih-lebihan atau untuk sesuatu yang tidak halal (haram).
  4. Do'a seorang muslim untuk kawannya yang tidak hadir dikabulkan Allah. (HR. Ahmad)
  5. Jangan mendo'akan keburukan (mengutuk) dirimu atau anak-anakmu atau pelayan-pelayanmu (karyawan-karyawanmu) atau harta-bendamu, (karena khawatir) saat itu cocok dikabulkan segala permohonan dan terkabul pula do'amu. (Ibnu Khuzaimah)
  6. Rasulullah Saw ditanya, "Pada waktu apa do'a (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?" Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam)." (Mashabih Assunnah)
  7. Do'a yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)
  8. Bermohonlah kepada Robbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya Allah berfirman (hadits Qudsi): "Barangsiapa berdo'a (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan do'anya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunanKu maka Aku ampuni dosa-dosanya." (Ar-Rabii')
  9. Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Tirmidzi)
  10. Barangsiapa tidak (pernah) berdo'a kepada Allah maka Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)
  11. Apabila kamu berdo'a janganlah berkata, "Ya Allah, ampunilah aku kalau Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki dan berilah aku rezeki kalau Engkau menghendaki." Hendaklah kamu bermohon dengan kesungguhan hati sebab Allah berbuat segala apa yang dikehendakiNya dan tidak ada paksaan terhadap-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)
  12. Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah 'Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do'amu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan do'a orang yang hatinya lalai dan lengah. (HR. Ahmad)
  13. Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah 'Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : "Adakah orang yang berdo'a kepadaKu akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?" Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)
  14. Tidak ada yang lebih utama (mulia) di sisi Allah daripada do'a. (HR. Ahmad)
  15. Tiga macam do'a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do'a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
  16. Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hambaNya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa. (HR. Al Hakim)
  17. Tiada seorang berdo'a kepada Allah dengan suatu do'a, kecuali dikabulkanNya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa. (HR. Ath-Thabrani)
  18. Barangsiapa mendo'akan keburukan terhadap orang yang menzaliminya maka dia telah memperoleh kemenangan. (HR. Tirmidzi dan Asysyihaab)
  19. Ambillah kesempatan berdo'a ketika hati sedang lemah-lembut karena itu adalah rahmat. (HR.Ad-Dailami)
  20. Ali Ra berkata, "Rasulullah Saw lewat ketika aku sedang mengucapkan do'a : "Ya Allah, rahmatilah aku". Lalu beliau menepuk pundakku seraya berkata, "Berdoalah juga untuk umum (kaum muslimin) dan jangan khusus untuk pribadi. Sesungguhnya perbedaan antara doa untuk umum dan khusus adalah seperti bedanya langit dan bumi." (HR. Ad-Dailami)
  21. Berlindunglah kepada Allah dari kesengsaraan (akibat) bencana dan dari kesengsaraan hidup yang bersinambungan (silih berganti dan terus-menerus) dan suratan takdir yang buruk dan dari cemoohan lawan-lawan. (HR. Muslim)
  22. Tidak ada manfaatnya bersikap siaga dan berhati-hati menghadapi takdir, akan tetapi do'a bermanfaat bagi apa yang diturunkan dan bagi apa yang tidak diturunkan. Oleh karena itu hendaklah kamu berdoa, wahai hamba-hamba Allah. (HR. Ath-Thabrani)
  23. Barangsiapa ingin agar do'anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan. (HR. Ahmad)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press