This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 27 Juli 2009

Benarkah cinta itu gila?

Malam ini, di kantor, sendiri menepi di pojok ruangan, setelah berfikir lama akan menulis tentang sesuatu, akhirnya aku ingat akan satu kisah hidupku, sebuah kisah nyata. Dimana aku selalu merasa bangga dan takut untuk menjalaninya (lagi) adakalanya merasa hangat di saat2 seperti itu, dan ada perasaan takut jika tak mampu mengendalikan diri.

Netral, Cinta Gila, meraung di kedua gendang telingaku, aku sengaja memutar habis volume winampku, hentakan bas dan deringan treble, dan suara vokalis, Bagus, yang tinggi membuat pikiranku menjadi tinggi juga. Terus kedengarkan hingga habis tak tersisa sedetikpun itu lagu. Ku putar ulang lagu tersebut, ku hayati dan secara perlahan masuk ke dalam pikiran terdalamku.

Lirik lengkap Cinta Gila by NETRAL Band

melesat menuju langit tujuh
secepat kilat menembus angkasa

jauh kutinggalkan planet bumi
terbang melayang melanglang buana

racun cinta membius hamba
panas dingin demam asmara

[reff]

cinta memang gila tak kenal permisi
bila disengatnya say no to kompromi

ku tak kuasa ku tak berdaya
si kerbau bego dicucuk hidungnya


Kisah kelam yang menghangatkan pada suatu musim kemarau di bulan Juli itu selalu teringiang dan "menghantui" pikiran dan jiwaku, ternyata masih ada orang seperti itu. Kisah ini tanpa sengaja sampai jauh menyeberang samudra, kisah yang seharusnya tidak menyeberang ke lain benua. Hingga pada suatu ketika mungkin terlalu asyik mengembangkan angan yang tanpa harapan, hingga kisah ini telah menyeberang. Kita tak sengaja menyeberangkan kisah ini, dan aku memahami manusia pastinya mempunyai khilaf dan mungkin khilaf itu yang mengajak kami tuk menyebrang ke benua lain.

Hangat, buliran peluh mengalir deras selama perjalanan singkat ini, tak membutuhkan waktu lama untuk mengukir sejuta kisah, mengukir kisah yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bukan aku merasa benci dengan kisa ini, tetapi lebih ke artian menyayangkan. Lirik lagu di atas bukan untukku tapi untuk dia, perasaannya tak bisa dikompromikan lewat kata-kata, terbang jauh ke awan meninggalkan bumi. Melesat cepat melebihi kecepatan cahaya, tanpa media perantara dan isolator.

Perasaanku berperang dengan batinku, perasaanku (syetan) mengatakan "teruslah maju demi kepuasan batinmu" di lain pihak batinku berteriak keras seperti suara sangkala "jangan dengarkan kata perasaanmu, itu adalah setan, pokoknya jangan kamu teruskan, sudah berhenti sampai di sini, titik" monolog diriku terus terjadi hingga akhirnya aku mengaku pasrah, apapun yang terjadi terjadilah. Sungguh sebuah jalan licin yang aku lalui tanpa menggunakan alas kaki yang bergerigi, kucoba terus perlahan dan berhati-hati dalam melangkah, akan tetapi sejauh aku melangkah yang terlihat hanyalah jalan becek dan liat. Pada satu titik dimana kesadaranku hilang kaki ini tak tahan untuk memplesetkan diri, waduwh........... akhirnya aku terpeleset juga.

Setiap hari komunikasi itu terjalin, perasaan senang, perasaan bangga, dan perasaan sombong bercampur menjadi satu, bagaikan jus aneka buah, tak karuan rasanya. Cinta memang Gila, untuk kisahku ini memang seperti itu. Cintanya kepadaku tak tehalang dimensi ruang waktu dan keadaanku, pokoknya. Yah... mau dibagaimanakan lagi, cinta itu hak, dan dia juga berhak tuk meluapkan rasa cintanya kepadaku, apapun yang ada di diriku dia tetap keukeuh untuk perasaannya itu. Sadar dan tau akan kesalahannya itu, tapi apapun yang terjadi dia tetap melenggang pergi tanpa permisi dengan nurani.

Sebuah puncak pertemuan tejadi pada pertengahan Juli, dimana kami "dipertemukan" untuk yang ke-2 kali, sebuah kesempatan untuk melontarkan sejuta bahkan lebih kata-kata yang tersimpan di dalam hatiku. Dimana sebelumnya aku telah tersadar akan keterplesetanku. Aku mulai mengerti akan ke khilafanku, dan akan aku perbaiki, akan tetapi aku juga tak mau menyakiti dia. Aku berusaha menjadi seorang lelaki yang tidak pengecut, menjadi seorang pria, seoarang ksatria.

Walaupun itu menyakitkan tapi aku berusaha jujur dengan keluarga dan teman. Ada yang menyarankan langkah A, langkah B, dan langkah C, tetapi aku mempunya rangkuman dari semua saran2 tersebut. Kucoba perlahan bicara, mengikuti iramanya, menganut faham dari cara yang baik akan menghasilkan yang baik pula. Itu aku anut selama bersamanya, perlahan kita bicara tentang kita, tentang bagaimana kita, dan tentang semua yang telah terjadi, apapun aku, dia mau dan dia akan melangkah jauh untuk itu.

Kucegah semuanya sebelum terlanjur, aku jelaskan siapa saya, siapa dia, jalan kehidupanku, jalan kehidupannya, dan itu akan menjadikan kebaikan buat semuanya, aku, dia, keluargaku, dan teman-teman kita. Tetesan air matanya membuatku menyesal, membuatku kalut dalam pikiran terdalam ini, kenapa... kenapa kau menangis, telah sadarkah, menyesalkah atau memang dia menangis karena kita tak mungkin untuk bersatu? hanya jawaban tangisan yang aku dengar.

Akhir kisah ini mungkin menjadikan sembilu di hatinya mungkin juga hatiku, aku telah berjanji untuk menemani sampai dia menemukan jati diri dan pasangan sehidup sematinya. Tapi itu hanya sekedar janji, janji janji yang tak bisa aku tepati, janjiku bukan janji suci, melainkan janji yang menenangkan hati. Aku sudah mengatakan semuanya terhadap dia, semua telah dia ketahui siapa aku dan siapa dia, tak pantas kita tuk bersama, selain itu karena status kita. Lajang dan sebaliknya.

Satu hal yang membuat aku merasa senang dengan kejadian ini, minimal aku telah sedikit membuka mata hatinya tentang kehidupan ini, yang mungkin selama ini dia tidak tau atau tidak mau tau tentang kehidupannya. Kedewasaannya hanya diperuntukkan dunia luar, kedewasaanya tidak dipergunakan untuk pribadinya. Semoga semua bisa berjalan dengan lancar, setia menemani sampai janji itu terpenuhi walaupun tanpa merubah elemennya, yang berubah hanyalah bentuk dari elemen itu.

Cinta Gila, ini sungguh terjadi di musim kemarau bulan Juli...
sebuah pelajaran hidup yang sangat berarti
pegangan tali ini masih terlalu kuat tuk tergoyah
menghabiskan kepuasanku hanya untuk pengalaman ini

dimana yang terjadi selalu ada awal
kisah dimana harus berakhir dengan tangisan
penyelasan itu belum terlambat
ini jalan terbaik yang harus ditempuh
buat diriku, dirimu dan lingkungan kita

kisah pertama dan terakhir dalam lembaran baruku
lembaran hitam terselip diantara jutaan lembaran putihku
tak bisa dibuang, tak bisa diubah
biarlah lembaran itu mengisi dan menghiasi kehidupanku
semua telah terlanjur dan aku telah menyadarinya

guru ini tlah menunjukkan jalan dimana aku harus melawatinya....

Jumat, 24 Juli 2009

Stereotip Bunga rampai


Dipagi yang teramat pagi ini, ku membayangkan sebuah keindahan sebuah bunga yang sirna karena tak ada yang merawat. Menyirami di pagi hari, memandikan cahaya mentari pagi, dan mengembalikan di saat senja tenggelam. Bunga itu tak terawat hingga akhirnya mati dikerubuti lalat. Kasihan......


Bunga rampai di pinggir jalan
Keindahan yang telena di terpa pelintas
Haus akan kemegahan dunia
Lapar akan kenikmatan sesaat

Bunga itu telah lama mati
Keindahannya diserahkan pada pemulung
Haus akan kemenangan
Lapar akan waktu yang tersisa

Bilamanpun kau tersirami
Keindahanmu tetap musnah dan tampak
Layu di tengah kesuburannya
Tergelatak begitu saja di sampar sandal

Terseok diantara sejuta kesenangan
Kamuflase sebuah kebahagiaan
Mengikhlaskan semua demi kepuasan itu
Menendang nurani, menelanjangi budi pekerti

Sungguh sebuah kemalangan
Sungguh sebuah kekhilafan yang di sengaja
Sungguh sebuah fikiran sesaat
Sungguh sebuah kemenangan sesaat
Sungguh sebuah tindakan yang sia-sia

Kasihan orang yang menemu bunga itu
Kasihan orang yang merawat bunga itu
Kasihan orang yang meluangkan waktunya
Kasihan bilama orang itu tak pernah tau

Kebahagianmu telah terampas pengalamanmu

Bendera hitam, maha seni yang rusak....

Kebebasannya mengantarkan dia sampai ke tiang tinggi, dimana bendera hitam telah ia letakkan di sana.

Kegagahan bendera itu menyiratkan sebuah arti kematian batinnya, setiap orang yang bisa melihat dengan seksama tulisan yang tersemat di dalamanya akan bertindak dan berlaku kasar. Ini bukan sebuah kiasan atau sebuah ancaman, melainkan sebuah keharusan tindakan yang mesti dilakukan.

Kabut tebal turun perlahan diantara rindang pohon, suasana dinginnya menelusuri relung jiwa kosong ini. Sepoi angin pagi menggoyangkan dedaunan yang terekat kuat di ranting-ranting pohon pinus. Pagi ini aku berjaket tebal dan di dalamnya masih menggunakan kaos rangkap berwarna cokelat bermotif garis. Terasa hangat dan yang terasa hanyalah kesejukan di raga ini.

Mentari kelihatan malu untuk menampakkan tubuhnya yang seksi, pancaran kulitnya yang kuning, tersembul di antara awan dan kabut tipis, hanya mengintip dari baliknya. Semburat cahayanya menenangkan jiwa ku, pertanda pagi ini hujan tidak turun lagi. Kulihat bendera hitam itu berkibar kencang, bersorak-sorai jauh di atas sana, bermain bersama tiupan angin pagi yang dingin. Aku paham akan kedinginnya, aku melihat dengan seksama kesendiriannya di sana, dan itu adalah sebuah pertanda bahwasannya dia menginginkan turun dan berkumpul menghangatkan bandannya yang semalam terkerubut kabut air.

Bendera hitam, yah bendera hitam itu senantiasa mengingkari hatinya untuk berhenti berkibar, bergoyang dan bersorak-sorai. Kesendiriannya terlihat jelas diantara keramaian pasar tradisional. Berdiri tinggi, sangat tinggi dan tertinggi di antara yang lainnya. Pagi itu terlihat melintas seorang penjaga gedung mewah yang bercat putih, lebih tepatnya kuning gading, berjalan pelan menahan kantuk. Perlahan dia mendekat ke tiang dimana bendera hitam itu nangkreng di atas sana, dalam batin aku begumam "tak sopan kamu, lihatlah dibawah sini, ada orang tua dengan berselimutkan sarung kumal dan keletihan karna semalam menjaga kau dan yang lainnya."

Bendeara itu tak menghiraukan apa yang terjadi di bawah sana, apa yang diperbuat oleh orang2 di bawah sini, kau terus bernyanyi dan bersorak kegirangan bersama tiupan angin, seakan kau mencuri perhatian dengan ukuranmu yang besar dan panjang. Setiap orang yang melintas melihat sekilas ke arahmu, tak kau lihatkan, tak kau pahamkah selama ini banyak diantara pelintas itu memperhatikan dan mengagumimu. Ah... bendera ya tetap bendera tak menghiraukan apapun yang ada dan terjadi di depannya, kau tetap saja bergoyang dan melambai seakan menggoda setiap orang yang dapat tergoda.

Ketakutanku selama ini, kesedihanku selama ini, kenapa harus bendera hitam yang ada di ujung sana, kenapa tidak kau kibarkan saja bendera sang saka merah putih, kenapa tidak kau kibarkan saja bendera partai yang beraneka warna dan berdesain indah. Kenapa kau kibarkan benderah hitam yang menghiasi taman dan gedung indahmu itu. Semua itu karena kebiasaan ataukah memang kesalahan kau memilih warna, apakah tidak kau ketahui sekian banyak orang yang melintas tau bahwa itu adalah lambang dari kejelekan, lambang kebusukan dan lambang dari hal2 yang tidak disukai oleh orang yang normal.

Bendera hitam terus bergoyang menantang alam, hingga suatu ketika ujunnya mulai rapuh dimakan masa, ujungnya mulai sobek dimakan sinar mentari dan tiupan angin yang kencang, ujungnya mulai hancur dimakan usianya. Dirimu akan musnah tanpa sisa dan yang terasa hanyalah penyesalan, bendera hitam telah hilang musnah. Kucoba mendekatimu, kucoba merayumu untuk turun dengan seabrek aktifitas yang tak kau sadari merusak dirimu sendiri, kucoba menarik tali yang mengikat erat aktifitasmu, perlahan kudekati tiang itu, melepaskan tali erat yang terikat di tempatnya.

Kebaikanku mengantarkan aku sampai sejauh ini, menurunkanmu, mengusapmu, menenangkanmu, dan pada akhirnya aku mengusap dan memperbaikimu, walapun aku belum yakin apa yang aku lakukan ini akan mempertahankan tubuhmu. Aku hanya mencoba untuk melakukan sebuah penyelamatan kehancuran yang ada di depanmu. Terus kucoba melipatmu menggunakan kedua tanganku, kasian melihat tubuhmu yang telah rusak, pecah, sobek, dan sebaian telah menjadi rapuh karena keasyikanmu selama di atas sana.

Selama aku memeganggu kuberikan sebuah perbaikan sana-sini, kijahit sobekan itu, ke tambal bolongan itu, dan ku cuci walaupun tidak mengembalikan kebentuk awalmu. Terus kucoba memperbaikimu, entah sampai kapan ini akan berlangsung, selama masih di pegangan tanganku kupastikan terawat dan terlindungi.

Bendera hitam, air matamu menetes pelan kebawah, sekan menyiratkan keinginanmu terus bersamaku, terus berada dalam genggaman tanganku dan tersirat keinginan dibuatkan sebuah kotak tempat menyimpanmu. Tapi aku tak punya cukup waktu dan cukup uang untuk membuat semua itu, bukannya aku tak mau, aku tak ingin memilikimu, aku hanya ingin membantumu menjadikan sebuah bendera yang terlihat rapih, aku telah mencoba tapi kamu bukan milikku, jadi aku tam mau memilikimu juga, aku hanya ingin membantu merawatmu, membenahimu karena selama ini tidak ada orang yang memperdulikanmu. Mereka hanya memandangmu tanpa memberikan sebuah sentuhan yang nyata kepada tubuh indahmu.

Aku telah berusaha dan mencoba memperbaikimu, aku tak bisa memilikimu, dan aku juga tak mau memilikimu, semoga tindakanku ini bisa membantumu, bertahan menjadi bendera hitam yang memiliki asa, dan semoga dikemudian hari kamu menemukan orang yang benar2 mau merawatmu, menyimpanmu dalam kotak mewah seperti yang kau inginkan. Bendera hitam sebuah kekuatan yang jika salah menempatkan akan berubah menjadi tanda kebejatan, dan yang jika benar dalam menempatkan kamu akan menjadi sebuah produk seni yang mengagumkan. Kebaikan itu ada di pribadi kamu, selama kamu mau dan berusaha menemukan tempat itu, kebahagiaan akan tersemat di dirimu, aku yakin akan hal itu.

Bendera hitam, semoga kebersamaan yang singkat ini menjadikan pelajaran, dan kau selalu ingat dan menjaga perawatanku yang hanya sedikit itu. Semoga...............!!!

Kamis, 23 Juli 2009

Segala macem theklek... (dari teman)

Theklek asli
: dari kayu, tinggal dikasih bandhat, atau bendrat, kadang malah potongan ban bekas, kalo dipake jalan bunyinya klethak klethe, mbrebegki...


Theklek tradisional
Theklek kecemplung kalen, timbang golek aluwung balen

Theklek ra gelem kalah
Theklek kecemplung laut, timbang golek aluwung ngrebut

Theklek kuempruohe puooolll...
Theklek midak tembelek, rasah golek teko dhewek :-)

Theklek nyasar...
Theklek temangsang nang wit kurma(o), sing digolek anak e wis lima(o)
[nek siji yo isih mikir-mikir...]

Theklek ngiman...
Theklek seko kayu glugu, siji digolek entuk e malah telu
[borong sisan, dab...]

Theklek bluluk...
Theklek sejinah ditumpuk, golak golek ra entuk-entuk

Theklek setia...
Theklek apik diblandhangne (dicolong), timbang golek luwung ngenteni randhane...
[DJARUM, dab... Demi Jandamu Aku Rela Untuk Mu]

Theklek kampret
Theklek kecemplung kali ra iso nglangi, timbang golek mendhing nggowo lari sing dicomblangi...
[ra toto nek jaman semono hare...]

Theklek melas...
Theklek ra iso di las, sing di golek jebul e ra nggagas blass...

Theklek idealis
Theklek dibrakoti tapir, ra golek golek malah mung kakehan mikir...
[mikir thok... ra ono realisasine...]

Theklek low profile
Theklek ora ono sing seko bumbung, bar ketemu olehe golek jebul gak wani nembung

Terorisme dan "hobi"


Juma'at 17 Juli 2009, pagi pukul 9 aku menhidupkan televisi yang terdapat di dalam buffet tua, TV 14" yang slalu setia menemani waktu senggangku. Mulai aku acak saluran yang sesuai dengan keinginanku.

Dari dalam televisi itu aku mendengar seorang wanita yang berbicara, ya Anchor berita salah satu televisi swasata Indonesia, samar-samar aku mendengar "bom meledak lagi di hotel JW Marriott dan hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Jumat, 17 Juli 2009 pukul 07. ..."

Wow.......... jeritan, kebencian, teriakan, dan segudang pikiran campur aduk dalam hati ini. Ini tidak mencerminkan lagu bang Roma "cukup satu kali kehilangan tongkat cukup satu kali..." setelah guncangan 2003, kenapa hal yang sama terulang kembali di tempat yang sama, apakah SOP pengamanan sudah dijalankan dengan semestinya? atau para pelaku lebih pandai? apa metal detector nya tak berfungsi? banyak pertanyaan yang tidak bisa terjawab saat itu.

Aku yakin sebagian besar bisa dikatakan mendekati 100% rakyat Indonesia mengecam dan mengutuk tindakan bondoh itu, tindakan yang membawa sebuah penderintaan khususnya keluarga korban ban umumnya rakyat Indonesia. Sebuah tindakan bodoh, (mungkin) emosi sesaat yang menimbulkan efek yang berkelanjutan.

"Korban" pertama dari kejadian ini adalah para pencinta klub sepakbola Manchester United, yang sedianya akan bertandingan melawan Indonesia All Star dalam rangkaian Tour Asia 2009, bagaikan nasi telah menjadi bubur, semua persiapan telah terlaksana dengan baik, panitia, lokasi, raounding acara dan semua tetek bengek guna menyambut kedatangan para pemain MU. 3 hari sebelum hari H (tanggal 20 Juli 2009) semuanya kacau, semuanya menjadi berantakan dan pupus sudah harapan sebuah team berkelas dunia tampil di negeri tercinta, di stadion kebanggan kita.

Bagaimanapun itu adalah perbuatan keji dan tak manusiawi, tapi lantas apa yang selama ini kita (khususnya aparat yang berwenang) lakukan? tindakan preventif apa yang telah di terapkan? berhasilkah, adakalanya perlu mengupgrade tindakan itu. Petugas keamanan sekelas hotel Marriott pastinya sangat mumpuni, dengan SDM dan fasilitas keamanan yang terbaru. Jika begini berarti bisa disimpulkan, teroris lebih pintar dari petugas keamanan dong? bisa ya dan bisa tidak.

Teror, ya teror buat kebanyakan orang adalah sebuha hal yang menakutkan dan mengerikan. Tapi jawaban yang berbeda jika kita lontarkan ke orang yang hobinya membuat teror, itu adalah "pekerjaan" yang menurut dia bisa di pertanggungjawabkan dihadapan yang pencipta yaitu Allah SWT, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pimpinan kelompok terorisme tersebut. Ini adalah sebuah kemenangan buat mereka, dan tentunya mereka telah merasa berhasil dan sukses dengan jadwal yang telah di tetapkan.

Kenapa di negeri yang penuh dengan kekayaan alam, budaya dan kedamaian ini selalu tercipta sebuah teror bom. Apakah ini dampak dari sistemp pemerintahan yang mawut, sistem birokrat yang sekarat, ataukah karena budaya korupsi kolusi dan nepotisme di pelihara dan dianak pinakkan? yah... semoga dengan kejadian ini semua bisa terungkap, siapa, mengapa mereka melakukan hal seperti ini. Seberapa hebatnya effek kejadian bom ini, ada yang lebih jauh membunuh lagi yaitu Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Jika Tripartit itu tidak segera ditumpas bom-bom lain akan bermunculan dan semakin banyak.

Jadikan negeri ini yang berpadangan Ketuhanan dan Kemanusiaan jangan dijadikan pandangan kehartaan.

Gibah yang diperbolehkan

Menurut bahasa, kata gibah berasal dari al-ghib (tidak tampak). Makna gibah berkembang jadi bergunjing atau membicarakan aib orang yang tidak disukai. Gibah merupakan penyakit jiwa yang destruktif (berbahaya).

Hukum gibah adalah haram. Tidak ada pengecualian mengenai perbuatan ini kecuali bila terdapat kemaslahatan yang lebih kuat seperti beberapa hal atau kasus sebagai berikut:
1. Orang yang mazhlum (teraniaya) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut haknya.
2. Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar.
3. Memperingatkan kaum muslimin apabila ada perawi, saksi, atau pengarang yang cacat sifat atau kelakuannya, menurut ijma ulama, seorang muslim boleh bahkan wajib memberitahukannya kepada kaum muslimin. Hal ini dilakukan untuk memelihara kebersihan syariat.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, “Setiap harta, kehormatan, dan darah seorang muslim adalah haram atas muslim lainnya. Cukup buruklah seseorang yang merendahkan saudaranya sesama muslim.”
Beberapa hal yang dapat menjauhkan seseorang dari gibah:
1. Merasakan apakah yang dibicarakan itu termasuk gibah atau bukan. Caranya dengan membayangkan seandainya orang yang dibicarakan itu mendengar apa yang ia bicarakan, jika dia merasa tidak senang maka itu adalah perbuatan gibah.
2. Setelah mengetahui haramnya gibah,berusahalah semaksimal mungkin untuk menjauhinya yaitu dengan menyeleksi apa yang akan dikatakan.
3. Menelaah, merenungkan, dan meyakinkan diri sendiri bahwa dengan membicarakan kejelekan orang lain sebetulnya itu sama sekali tidak akan menambah derajat seseorang.
4. Menyadari bahwa seseorang yang dibicarakan kejelekannya itu sebenarnya adalah saudaranya sendiri, bukan musuh yang harus dihujat atau pun dicela.
5. Jika diajak membicarakan kejelekan orang lain, seorang muslim harus menyadari bahwa ada dua kemungkinan tentang orang yang menggunjing, pertama karena dia belum tahu haramnya gibah menurut Islam atau kemungkinan kedua yaitu dia sedang khilaf tanpa sengaja telah menggunjing. Maka berusahalah untuk menghentikannya secara makruf tanpa menyinggung perasaannya. Caranya, ingatkanlah secara lisan bahwa gibah itu dilarang.
Jumhur ulama berpendapat, cara yang mesti ditempuh oleh orang yang bertobat karena menceritakan saudaranya ialah hendaknya dia menghentikan perbuatan itu dan bertekad tidak akan mengulanginya. Sebagian ulama men-syaratkan pula untuk meminta maaf kepada orang yang telah digunjingkannya itu. Adapun yang lainnya mengatakan bahwa tidak menjadi syarat baginya meminta maaf kepada orang itu. Karena bila dia memberitahukan kepada orang itu tentang gunjingannya, barangkali ia akan merasa lebih sakit daripada dia tidak mengetahui apa yang telah dipergunjingkan orang terhadap dirinya itu.